Haul untuk Lingkungan Hidup yang telah Mati

Gambar hanya untuk pemahit

Matamojokerto | Opini – Sedih memang ketika kita harus dibenturkan akan sebuah kenyataan jika Lingkungan Hidup terancam kehidupannya. bahkan menurut saya Lingkungan kita sudah mati, melihat exploitasi besar besaran dan juga resminya Undang Undang akan kemudahan Investasi yang dalam prakteknya membutuhkan sebuah lahan baru untuk dialih fungsikan menjadi Industri menjadi pertanda bahwa lingkungan hidup kita semakin mati. Tidak ada yang bisa saya lakukan sebagai Wong Cilik (Orang Kecil) karena postur saya yang memang kecil yang memiliki tinggi badan hanya sekitar 150 cm untuk berbuat sesuatu untuk menjaga warisan leluhur saya ini, kecuali dengan menuliskan keluh kesah ini yang mengharapkan keberuntungan agar bisa dibaca oleh orang besar yang bisa membuat sesuatu yang lebih, dan juga berdoa untuk haul lingkungan hidup ini.

 

Kasus akan perusakan dan penyerobotan wilayah kelolah masyarakat yeng terus saja terjadi. Bahkan Hutan di Indonesia semakin mengalami penyempitan,dilansir dari Kompas.com yang terbit pada 30 Agustus 2016 Setiap tahun, Indonesia kehilangan hutan seluas 684.000 hektar akibat pembalakan liar, kebakaran hutan, perambahan hutan dan alih fungsi hutan. Menurut data yang dirilis Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) berdasarkan data dari Global Forest Resources Assessment (FRA), Indonesia menempati peringkat kedua dunia tertinggi kehilangan hutan setelah Brasil yang berada di urutan pertama.

 

Belum lagi pengesahan akan Undang Undang Cipta Lapangan Pekerjaan (Cilaka) yang menghalalkan perampasan lahan secara paksa atau dibuat terpaksa dengan dalih pembangunan ekonomi dan keperluan Investasi Nasional.

 

Sebelum disahkannya UU No 11 tahun 2020 masyarakat masih memiliki wewenang untuk melakukan gugatan terkait izin lingkungan, ya meskipun dalam prakteknya masih saja keputusan pemerintah terkait gugatan dari masyarakat terkait pertahanan akan lingkungan hidup ini sering kali mendapatkan penolakan. Namun setidaknya, perjuangan dari masyarakat ini dijamin undang undang. Namun dalam undang undang yang baru saja disahkan dan menjadi viral yang mampu mengalahkan viralnya TikTok ini atau bahkan menjadi konten para TikTokers agar cepat viral ini malah menghapuskan pasal 38 dalam UU 32 Tahun 2009 terkait gugatan izin lingkungan. Artinya, rakyat semakin dibatasi untuk untuk menyuarakan ataupun memperjuangkan Tanah Airnya.

 

Mendapatkan respon penolakan terus menerus tidak membuat gentar pemerintah untuk mengesahkan Undang Undang Cipta Kerja ini, kukuhnya pemerintah menjadikan masyarakat menuding kalau Undang Undang yang memakai metode Omnibus Law ini merupakan Undang Undang pesanan dari para Investor yang tergiur dengan kekayaan alam bangsa ini.

Baca Juga  PENDIDIKAN DAN KEMERDEKAAN PEREMPUAN

 

Kebakaran hutan di Papua beberapa hari kemarin seolah membenarkan dua hal, yang pertama yaitu Lingkungan Hidup yang benar benar mati, dan yang kedua Opini Masyarakat terkait Undang undang pesanan yang terwujud dalam UU Cilaka ini.

 

Papua yang merupakan hutan hujan terluas yang masih tersisa di Asia ini dengan sengaja dibakar oleh salah satu perusahaan raksasa asal Korea Selatan. Dalam data yang didapat dari investigasiInvestigasi yang dilakukan oleh Forensic Architecture dan Greenpeace Indonesia, yang diterbitkan pada Kamis (12/11) bersama dengan BBC, menemukan bukti bahwa Korindo telah melakukan pembakaran hutan untuk membuka perkebunan kelapa sawitnya.

 

Memang dalam 8 tahun terakhir Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) meroket ke level tertinggi. Ekspektasi meningkatnya permintaan CPO dibarengi dengan penurunan supply, menjadi pemicu kinerja impresif tersebut. Hal ini yang saya rasa menjadikan Perusahaan Korindo Group membuka hutan Papua lebih dari 57.000 hektar, atau hampir seluas Seoul, ibu kota Korea Selatan. hal ini lah yang menjadikan alasan pembenaran saya terkait teori UU Cilaka ini merupakan undang undang pesanan.

 

Kembali hilangnya luas hutan di Indonesia ini menjadikan kita semakin merana, bagaimana tidak, Hutan yang merupakan penyangga iklim dunia yang semakin hari semakin memburuk. Sesuai dengan artikel yang rilis dalam forestsnews.cifor.org. Tanpa adanya hutan, perubahan iklim akan lebih parah dari apa yang terjadi saat ini. Hutan dan pepohonan mengatur iklim dan air di bentang alam planet kita. Hutan dan pohon juga melindungi tanah, penyedia nutrisi dan energi terbarukan bagi ratusan juta orang. Tanpa jasa ini, sistem pangan akan sangat rentan; manusia tidak mampu, terutama mengalami kekurangan kebutuhan mendasar penghidupannya. Belum lagi hutan yang kemarin dibakar untuk keperluan investasi merupakan tempat tinggal dari masyarakat adat papua yakni Suku Mandobo dan Malind, yang artinya kehidupan dari mereka juga terancam.

 

melihat kondisi alam yang semakin hilang alaminya, sejenak marilah kita berdoa untuk haul lingkungan hidup yang semakin mati.

 

Oleh : Dwi Yuliyanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *