Menilai Kuliah Online Yang Kurang Efektif, PK PMII Majapahit Mojokerto Gelar Pelatihan Public Speaking

Pelaksanaan Pelatihan Public Speaking oleh PMII Komisariat Majapahit

Matamojokerto | Mojokerto – Pemberlakuan kebijakan kuliah daring (online) yang dirasa bisa mengikis keterampilan mahasiswa dalam berkomunikasi secara efektif membuat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Majapahit membuat pelatihan public speaking pada, Sabtu (28 November 2020).

 

Kordinator acara, Selamet Indharto berpendapat, Sejak diberlakukannya kebijakan kuliah daring (online) oleh Pemerintah beberapa bulan terakhir, tentunya membuat intensitas interaksi dan diskusi antar mahasiswa menjadi berkurang.

“Presentasi dan diskusi yang semula dilakukan di dalam kelas secara tetap muka, kini sangat bergantung pada jaringan internet yang sewaktu-waktu dapat menghambat efektifitas komunikasi.” Ujarnya.

Dipihak yang lain, Ketua PMII Komisariat Majapahit, Muhammad Ridho Arifadly berkata, selain untuk mengasah mental, Kemampuan Public Speaking hendaknya menjadi modal utama yang harus dimiliki oleh seorang mahasiswa guna meningkatkan rasa percaya diri serta melatih kecakapan dalam berkomunikasi.

“Dari pelatihan ini nantinya diharapkan baik dari anggota maupun pengurus rayon supaya lebih percaya diri dan tidak gagap ketika berbicara di depan banyak orang” tutur Ridho.

 

Sementara itu menurut Andre Widha selaku pemateri pertama menegaskan, bahwa sebagai insan intelektual, seorang mahasiswa harus memiliki kemampuan berkomunikasi secara baik guna menyampaikan gagasan atau pokok pikirannya supaya mudah diterima serta mudah di pahami oleh orang lain.

“Hari ini kita bukan siswa lagi yang hanya belajar dan berdiam diri di dalam kelas, sebagai agen sosial control mahasiswa dituntut mampu menyampaikan aspirasi masyarakat supaya di dengar oleh Pemerintah, maka dari itu kemampuan public speaking perlu dilatih sejak sekarang” ungkapnya.

 

Andre juga menambahkan bahwa untuk menjadi pembicara yang baik, maka diperlukan kesiapan serta strategi yang matang sebelum berbicara di hadapan publik atau audiens.

Baca Juga  Keluhan Masyarakat Belum Tertampung, PMII Luncurkan Portal Pengaduan Bansos Covid Kabupaten Mojokerto

“Proses kreatif menjadi hal yang paling penting sebelum seseorang berbicara dihadapan banyak orang, maka dari itu perlu menyiapkan naskah public speaking atau menyiapkan materi terlebih dahulu” tambahnya.

 

Selanjutnya menurut pemateri yang kedua Nur Ramadhani, seorang public speaker juga harus memahami audiens yang menjadi lawan bicara.

“Penggunaan bahasa serta materi yang akan disampaikan harus disesuaikan dengan audiens yang ada di depan, karena hal tersebut sangat berpengaruh pada efektifitas komunikasi, ketika berbicara dengan mahasiswa maka bahasa yang digunakan adalah bahasa akademis sebagaimana lazimnya bahasa mahasiswa, berbeda ketika berbicara dengan seorang petani, maka bahasa yang digunakan adalah bahasa sehari-hari” pungkasnya (slmt)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *