Perjuangan Griyo Maos Banyu Ilmu Dalam Memerangi Wabah Malas Baca

Foto Basecamp Griyo Maos Banyu Ilmu

Matamojokerto | Mojokerto – Minimnya tingkat minat baca masyarakat Indonesia memang menjadi persoalan yang sangat memprihatinkan, menurut studi World Most Literate Countries yang dilakukan oleh Presiden Central Connecticut State University (CCSU), John W Miller pada Maret 2016, dari 61 Negara Indonesia menempati peringkat ke 60 dalam hal minat baca. Rendahnya minat baca menggugah beberapa komunitas untuk terjun mengentas wabah malas membaca, tak terkecuali di Mojokerto, salah satu komunitas yang terpanggil yaitu Griyo Maos Banyu Ilmu.

 

Komunitas Griyo Maos Banyu Ilmu yang berdiri sekitar pertengahan tahun 2016, berawal dari sebuah gubuk.

 

Awal berdirinya Griyo Maos ini terbilang tidak mulus, pasalnya juga beberapa kali gubuknya harus pindah dari satu lokasi ke lokasi lain karena tidak mendapat izin dari pemilik tanah.

 

“Jadi dulu kami hanya berupa gubuk, lha gubuknya itu bisa diangkat mas, jadi waktu di taruh di situ Ndak di bolehin sama pemiliknya pindah kesana, Ndak di bolehin pindah lagi ke ujung sana, jadi kami bolak balik pindah tempat mas,” Jelas Abidin, Founder Griyo Maos.

 

Namun untuk saat ini, Founder Griyo Maos ini menjelaskan bahwa komunitas yang berdomisili di Desa Japanan, Kecamatan Kemlagi, Mojokerto ini sudah mendapatkan dukungan dari warga sekitar dan juga pemerintah desa setempat dalam kegiatannya,

 

“Sekarang sudah menetap di sini mas, kalo buat kegiatan selalu didatangi Pak Lurah, atau kalau tidak Bu Lurah.”

Foto Rak Buku Griyo Maos Banyu Ilmu

 

 

Selain membuka taman baca masyarakat, Griyo Maos Banyu Ilmu terbilang aktif menyelenggarakan Kemah Literasi.

 

“Setiap 3 Bulan atau 4 bulan sekali kami buat Kemah Literasi, tergantung dari anak anak mas, kalau 1 bulan sekali takutnya anak anak bosen.” Jelasnya.

Baca Juga  Pengunjung Perpustakaan Menurun Drastis, Dinas Perpustakaan Megajukan Pembukaan Kembali Cabangnya Setelah Melihat Mall Buka

 

Komunitas Griyo Maos Banyu Ilmu juga mengkampanyekan permainan tradisional dalam rangkaian acara kemah literasinya.

 

“Kalau untuk rangkaian acara kemahnya bebas sih mas, cuman kalo sore kami buat permainan tradisional, dan malamnya pentas seni, ya untuk melatih anak anak agar berani berbicara didepan.”

 

“Anak anak yang ikut kemah saya suruh bawa beras 1 gelas, dan juga 2 bungkus Snack, nanti dikumpulkan, di acak, lalu dibagi kembali, untuk melatih kebersamaan lah mas”. Terang Bidin, sapaan akrabnya.

 

di tengah masa pandemi Covid-19 ini Abidin membatasi peserta dalam pelaksanaan kemah literasinya.

 

“Dulu sebelum pandemi pesertanya sekitar 50 bahkan bisa mencapai 100 orang, tapi saat ini kami batasi, kan ada pandemi, jadi pesertanya sekitar 20 orang saja, mungkin setelah pandemi ini kita bisa bekerjasama dengan komunitas lain atau sekolah untuk kegiatan kemah literasi ini.” Tuturnya. (DIY)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *