STRATEGI KADERISASI KULTURAL DALAM MATA RANTAI KADERISASI PMII

Gambar Pemanis

Matamojokerto | Opini – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) selalu terpahami dengan multi gerakan di mana ruang geraknya selalu memilih gerak yang cenderung global, sebagaimana telah di jelaskan dalam buku multy level strategi gerakan PMII selalu memberikan satu gagasan untuk menciptakan banyak pilihan gerakan dalam mencapai tatanan mulai dari pengorganisiran calon anggota sampai pasca menjadi anggota.

Konteks yang terbahas pada saat ini adalah mojokerto, secara geografis bahwa mojokerto di apit empat zona yang memiliki karakteristik yang sangat jauh berbeda yaitu metropolis, pantura, tapal kuda dan matraman. keuntungan yang terjadi akibat dari di apit  empat zona adalah mudahnya transformasi ala pemikiran dari semua zona yang sesuai dengan karakteristik mojokerto dan menjadi kebutuhan kader kader yang ada di mojokerto. Mojokerto yang memilki lahan garap yang begitu banyak di mana berbagai bentuk baik itu advokasi kebijakan pemerintah, atau hal hal yang bersifat basis kerakyatan.

Mahasiswa mojokerto yang memilki berbagai varian tipologi tentunya sangat berbeda dalam memberikan strategi pengkaderan sesuai dengan basic keilmuan yang di miliki atau sesuai dengan minat dan bakatnya.

 

Kaderisasi adalah sebuah proses pembentukan seorang kader (subjek dalam organisasi yang senantiasa bergerak mewujudkan cita cita organisasi). Seringkali saya lihat dalam metode pendekatan kaderisasi di PMII lebih bersifat ke metode yang Formalitas dan saya rasakan metode seperti ini kurang masuk dalam hati dan fikiran seorang kader. Namun bukan berarti juga kaderisasi formal itu tidak penting, itu juga menjadi sangat penting terkhususnya MAPABA, PKD, dan PKL karena itu adalah pola kaderisasi wajib dalam PMII.

 

Namun, saya rasa proses pendidikan kaderisasi formal wajib didalam PMII tadi masih belum efektif dalam hal transformasi nilai PMII. Oleh karenanya masih perlu program pendukung yaitu follow up.

 

Perlu disadari didalam sebuah wadah yang memungkinkan banyak orang berinteraksi akan melahirkan sebuah budaya. Dan sangat perlu di mengerti bahwa pengaruh budaya mampu untuk menanamkan nilai nilai kedalam pribadi seseorang bahkan orang itu tidak menyadari.

Kenapa bisa begitu ?

Itu semua bisa terjadi karena budaya mampu untuk masuk dan mengkontrol kedalam kebiasaan orang atau yang biasa kita sebut pola hidup. Dan kontrol itu terjadi selama terus menerus sehingga mempengaruhi pola akal bawah sadar, karena hal itu Kaderisasi Kultural menjadi hal penting di tubuh PMII sebagai Transformasi nilai yang sangat efektif.

 

Begitupun di dalam PMII pasti memiliki budaya budaya yang terdapat didalam badan organisasinya, dan itupun juga berbeda beda di setiap wilayah. Namun saya rasa banyak sekali pengurus PMII kurang sebegitu menyadari akan pentingnya pengaruh dari kultur. Banyak juga pengkader dalam kepengurusan yang bisa membangun sebuah budaya yang dia inginkan, bahkan banyak juga pengurus malah terjebak kedalam budaya baru dan terlena. Oleh karena itu penting bagi pengurus untuk memahami apa kaderisasi kultural dan mampu mengimplementasikan kedalam Rantai Kaderisasi.

Didalam organisasi PMII ini penulis melihat ada tiga tahap inti dalam kaderisasi yang saling berkaitan sehingga membentuk sebuah rantai kaderisasi dan pada kali ini penulis akan mencoba membedah sebisa dan sedalam yang penulis bisa lakukan dan memberikan memberikan metode pendekatan dan penguatan kaderisasi tersebut dengan pembangunan kultur atau bisa disebut Kaderisasi Kultural.

Dalam Rantai Kaderisasi yang penulis lihat terdiri dari ;

  1. Penjaringan
  2. Pembentukan atau pembinaan
  3. Diaspora

Dan didalam tiga tahapan kunci ini perlu akan adanya sebuah pembangunan kultural yang kuat sehingga mampu untuk melakukan kaderisasi secara efektif dan efisien.

 

Penjaringan

Penjaringan adalah sebuah proses didalam kaderisasi yang dimaksudkan sebagai pintu masuk anggota baru kedalam organisasi tersebut dalam hal ini adalah PMII. Dalam proses ini tentunya kita harus memahami tipologi mahasiswa di dalam lingkungan organisasi itu eksis karena iklim dari setiap daerah pastinya berbeda, bahkan di setiap kampus maupun fakultas.

Baca Juga  Usai Kampanyekan Penolakan Kekerasan Seksual, Kopri Mojokerto Mendatangi Polres Kabupaten untuk menanyakan kejelasan kasus pelecehan di PT BONDVAST

Seperti yang saya sampaikan di awal tadi, bahwa secara geografis Mojokerto diapit oleh empat zona membuat kader di setiap Komisariat memiliki karakteristik yang heterogen. Maka dari itu pengenalan kultur juga menjadi sangat penting dan harus dikuasai oleh pengkader di Mojokerto.

Dalam masa penjaringan ini penting bagi PMII untuk mampu membangun budaya budaya yang mampu untuk diterima oleh mahasiswa di dalam kampus. Dalam pembangunan ini penting bagi pengkader untuk melakukan pendekatan secara cepat kepada MABA. Untuk itu penting bagi PMII untuk mampu menguasai Kekuatan Kampus secara Kultural yang akan saya bahas pada poin diaspora. Kembali kedalam penjaringan kultural tadi, setelah pendekatan kepada maba sudah intens dan mampu masuk kedalam rutinitas mahasiswa di dalam kampus maka proses penjaringan bisa sangat optimal karena mereka sudah terjebak kedalam budaya yang kita buat, dan kita mapu untuk menggeser budaya tersebut bisa kita geser kedalam wadah PMII.

 

Pembentukan

Tahap selanjutnya dalam kaderisasi adalah pembentukan seorang kader agar mampu memperjuangkan cita cita organisasi. Dan dalam memperjuangkan cita cita itu maka seorang kader PMII harus selesai dalam pengembang dan peningkatan potensi khususnya dalam perspektif pikir.

 

  • Idiologis

Kebutuhan yang paling vital bagi organisator seperti kader PMII yang dalam konteks gerakan universal dan rentan dengan sebuah permasalahan-permasalahan social. Sehingga idiologi adalah sebuah kewajiban yang harus ditanamkan pada setiap kader organisasi supaya dalam orientasi pengembangan dan pembangunan organisasi dapat dilakukan dengan sikap loyalitas dan tanpa adanya sebuah kebutuhan diri. Dalam hal ini peran kaderisasi Kultural sangat urgent karena menyangkut penanaman nilai nilai ideologi yang bersifat dogma.

  • Intelektualitas

Keramgka intelektual adalah sebuah keranga substansi bagi seorang mahasiswa atau kader, namun dalam hal pemenuhan kebutuhan tersebut bukanlah pemenuhan kebutuhan yang langsung ada akan tetapi masih membutuhkan proses, sehingga fungsi kajian, diskusi formal dan informal serta budaya membaca menjadi kebutuhan dalam merealisasikan konsep tersebut.

  • Kritis

Kepekaan adalah sebuah keharusan bagi seorang mahasiswa senan mahasiswa adalah the agent of change atau agen perubahan, serta mahasiswa mempunyai tanggung jawab social, sehingga upaya mendekatkan diri pada realitas kemasyarakatan adalah sebuahkebutuhan, sehingga  pendekatannya adalah fungsionalisme lembaga-lembaga penelitian pada setiap wilayah organisasi sehingga salah satu media transformasi dan distribusi keilmuan kader yang akan menompang proses perkembagan potensinya. Selain peran forum-forum kajian yang dilakukan.

  • Profesional

Kerangka akademika adalah sebagai perwujudan dasar profesionalisme seseorang, sehingga proses profesionalisme formal menjadi upaya membentuk sikap profesionalisme yang mendasar yang akan menciptakan sikap disiplin dan menghargai pola sistematika kaderisasi formal.

 

Dalam tahap kaderisasi ini sangat penting akan di bentuknya sebuah budaya budaya diskursus rutin dalam tubuh pmii sebagai bentuk program pendukung atau backup program program formal.

 

Diaspora

Pada tahap ini kita sudah tidak berbicara lagi bagaimana kita mampu membuat kultur kaderisasi, tetapi bagaimana kader kita mampu untuk membuat kultur tersebut. Kematangan dalam proses pembentukan menjadi kunci diaspora ini bisa berhasil. Penyebaran kader yang telah selesai dalam pembentukan pada akhirnya akan membentuk kultur kultur baru dan pada akhirnya sebagai pintu masuk untuk anggota baru itu masuk.

 

 

Artikel Karya : Dwi Yuliyanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *